Akuaponik Era New Normal

Akuaponik Era New Normal : Masalah, Solusi dan Peluang Ekonomi

Oleh Henry Kasman Hadi Saputra, SPi MSi *)
Urban Farming

Akuaponik Era New Normal : Masalah, Solusi dan Peluang Ekonomi. Wabah pandemi covid 19 (corona virus disease tipe 19) yang dimulai dari Wuhan, RRT sejak akhir Desember 2019 hingga menyebar luas ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Maret 2020 merupakan dimulainya efek dari covid 19 di Indonesia sehingga tidak sedikit yang terkena dampaknya baik itu langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung maksudnya adalah dampak human atau adanya korban jiwa bahkan sampai meninggal dunia terutama dari kalangan usia senja, sedangkan dampak tidak langsung adalah non human artinya berdampak pada penghasilan kebutuhan harian. Adanya pandemic ini juga merubah kebiasaan kerja, semula yang biasa kerja dan aktivitas di luar rumah maka saat ini harus dilakukan dari rumah atau istilah bekennya Work From Home atau School From Home. Hal ini disebabkan adanya kebijakan social distancing atau menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Kejenuhan di rumah saat WFH menyebabkan diperlukannya kegiatan yang mampu menghasilkan baik secara materil (uang) maupun non materil (kesehatan). Kegiatan tersebut salah satunya adalah bercocok tanam budidaya tanaman atau ikan pada lahan yang terbatas yang umumnya disebut dengan urban farming.

Urban farming merupakan suatu gebrakan atau gerakan untuk memanfaatkan lahan sempit dan umumnya terdapat di daerah padat penduduk dnegan tingkat kesibukan yang tinggi dicirikan dengan daerah jumlah penduduk per kilometer persegi melebihi standar suatu pemerintah wilayah dan umumnya dicirikan berupa perkotaan. Kegiatan Urban Farming dilakukan selain karena hobi juga karena kebutuhan untuk menambah kelengkapan kebutuhan rumah tangga, malah ada sebagian orang untuk mengobati kerinduan bercocok tanam sebagaimana di kampung halaman karena sedikit banyak dari mereka adalah perantau dari berbagai daerah penjuru nusantara yang umumnya latar belakangnya adalah petani atau pembudidaya ikan.

Konteks pelaku urban farming sebagai hobi adalah kegiatan yang dilakukan hanya untuk mengisi waktu senggang saja baik hanya untuk menikmati kesegaran dan warna dedaunan atau membuang stres setelah pulang kegiatan sehari – hari sehingga hasilnya cenderung tidak ada terget untuk memperoleh keuntungan dengan kapasitas produksi dalam satuan waktu tertentu.

Tipikal urban farming selanjutnya adalah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, meskipun menghasilkan tetapi tidak untuk dijual. Tipe ini umumnya berusaha dengan sebaik mungkin menghasilkan tetapi tidak menghitung berapa jumlah pengeluaran untuk belanja dan membuat sistem urban farming tersebut yang terpenting berhasil dan bagus. Umumnya mereka melakukannya dengan kesungguhan pengerjaannya hal ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, unsur mengurangi belanja sebagai faktor utamnya.

Tipe yang terakhir ini cukup unik karena mengusahaan urban farming untuk usaha bisnis demi mendapatkan keuntungan. Tidak sedikit modal yang dikeluarkan karena minimal harus memenuhi standar minimal usaha yakni dan BEP (Break Event Point) atau titik impas dimna biaya keluar dan masuk diatur sedemikian ketat untuk keberlangsungan cash flow perusahaan. Kategori ini paling perfect dalam proses pembuatan sampai penjualan produk-produk urban farming.

Karakteristik Urban Farming